Tinggalkan komentar

MUI Tidak Campur Tangan Biaya Sertifikat Halal di Luar Negeri

MUIMeskipun MUI mendasarkan kehalalan produk dari luar negeri dari lembaga sertifikasi halal yang diakui MUI. LPPOM bisa meminta klarifikasi lebih lanjut terhadap produk impor tersebut dengan menggunakan basis ilmiah, namun tidak mencampuri biaya yang dipungut.
“Kita tidak ikut campur soal biaya yang dipungut mereka,” kata Direktur Pelaksana LPPOM Ir. Lukmanul Hakim Msi, di Jakarta, Rabu, (26/2/2014). “Artinya pengakuan disini konteksnya kerjasama antara MUI dan LPPOM dengan lembaga Halal luar negeri . Audit secara substansial tetap dijalankan secara normal, tidak ada yang terlepas dari pengkajian ilmiah di dalam LPPOM,” katanya.

Dia menyatakan, yang menjadi perhatian lembaganya adalah soal apakah mereka memenuhi tujuh criteria, di antaranya: lembaga itu adalah ormas islam dan memiliki auditor, ulama, kantor, SOP dan menejemen. “Kami juga melihat apakah mereka menjalin kerjasama dengan komunitas Muslim, ini penting untuk memastikan mereka bukan artinya bukan private company, bukan untuk memperkaya diri saja,” imbuhnya.

Seritifikat Halal Luar Negeri dipakai LPPOM MUI sebagai dokumen pendukung untuk memproses sertifikasi halal terhadap produk yang datang ke Indonesia. “Jadi nanti sertifikat halal luar negeri dijadikan salah satu poin untuk mendukung scientific judgement ke Komisi Fatwa. Tidak perlu di sertifikasi lagi. Ketiga ada yang perlu diklarifikasi kami berhak bertanya lebih lanjut,” katanya. Pengakuan Seritifikat Halal dari Luar Negeri dilakukan oleh Komisi Fatwa.

Sekedar contoh, menurut Lukman, MUI tidak melakukan proses sertifikasi Halal di luar negeri untuk daging, kecuali hanya melakukan registrasi di rumah pemotongan.” Jadi hanya waktu di awal saja. Tiga tahun sekali kita evaluasi. Sertifikasinya dilakukan oleh lembaga halal di luar negeri yang diakui MUI,” katanya.

Menurutnya, ada korelasi antara prosedur audit dengan aturan kesehatan hewan, misalnya dalam satu ruangan rumah potong, tidak boleh ada sapi dan babi. “Di Indonesia pun tidak boleh, karena ada potensi penyakit di situ,” katanya.

Dia menambahkan, kalau ada yang bilang satu rumah potong terdiri dari sapi dan babi, itu sama saja dengan menuding aturan di Australia yang tidak sesuai dengan mekanisme kesehatan hewan. Jika tempatnya berdampingan mungkin bisa terjadi. “Sedangkan dari aspek kehalalan harus terpisah secara nyata. Baik bangunan, gerbang, orang yang menyembelih dan semua peralatan harus berbeda,” tuturnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: